Sunday, May 20, 2012
Untuk Buana, Rahma dan Sophan.
Nota ini aku buat saat kalian mungkin sedang, untuk sekian kali seperti hari-hari yang lampau, berbual dan mengelabui audiens dengan pernyataan-pernyataan eksistensialisme, satirisme sosial dan apatisme politik khas kalian di atas seundak papan pementasan setinggi mata kaki orang dewasa. Atau mungkin juga lebih dari itu: mungkin ini malam kalian tengah menyulut keributan dari atas panggung raksasa dengan sistem pengeras suara tergantung menumpuk di kedua ujung sayapnya.
Di tempo yang lampau, belum juga itu tempo menjadi 'dahulu kala', aku juga ada di sana, kawan penyanyi, berusaha menjadi lebih gila darimu di atas petak kayu yang semestinya terlalu kecil untuk dijadikan arena sirkus, tapi kenyataan itu tak pernah berlaku untukmu.
Aku juga di sana sama-sama kegerahan, kawan penabuh dram, dan jika kau masih ingat, dalam satu pementasan, takkan lebih dari dua kali aku menengokkan kepala ke arahmu: yang pertama adalah ketika refrain lagu Let's Go To War-nya AC4 dan yang kedua adalah saat refrain kedua di lagu yang sama, hanya saja saat refrain kedua dimainkan, kau selalu tampak terusik dan jua terbakar oleh aku yang menjulurkan kepala dan berteriak hanya beberapa sentimeter di depan mukamu. Berbarengan kita selalu berteriak di refrain kedua, "Let's go to war. Fuck."
Itu kala, aku pun masih di sana, masih terus berusaha menyaingi atau menyeimbangi level keberingasan, kesepenuhhatian dan kebebasanmu, kawan bergitar, meskipun selalu di akhir hari aku terengah-engah kelelahan, tak sampai kemampuanku.
Di malam-malam pascabermain musik, kita adalah tokoh idola bagi setiap personil satu sama lainnya.
Di petang-petang berikutnya, setiap orang di tubuh kolektif ini adalah alasan bagi setiap lainnya untuk menggagalkan kencan bercinta tanpa kondom, adalah alasan untuk menggagalkan jadual latihan dan merelakan uang iuran fitness hangus, adalah alasan untuk menutup rapat-rapat pintu toko majikan sebelum waktunya dan juga berarti teguran keras di atas kertas surat peringatan, adalah alasan untuk bangun dan keluar kamar merelakan masa berleha-lehanya dipakai; untuk hanya berkumpul di sebuah kubikal 8x6 meter persegi di bilangan Antapani, Bandung: orang bilang kita sedang "latihan band".
Di siang-siang berikutnya, selalu ada salah seorang dari kita yang bangun paling awal dan kemudian memasang daftarputar lagu-lagu yang akan mempermudah otak penghuni kamar lainnya untuk segera bekerja dengan waras pascapesta kecil-kecilan malam sebelumnya.
Di pagi-pagi lainnya, entahlah, tak terlalu banyak yang kita lakukan selain hanya menikmati cahaya mentari yang mengendap masuk kamar di pelosok Bandung Utara yang kerap kita jadikan posko darurat pelarian kebosanan.
Nyatanya, tak ada yang benar-benar ingin aku sampaikan lewat nota ini. Tidak secara induktif, deduktif, eksplisit ataupun implisit.
Aku tidak sedang bernostalgia dan merindu kalian. Aku tidak suka meromantisasikan perjalanan masa lampau.
Aku juga tak suka tidak berpura-pura tentang keemosionalan.
Aku masih mengenal kita sebagai pembual kelas ulung, sebagai segerombol Hyena yang selalu akan terus mengelabui dan mengabuabukan kesolidan pendirian orang-orang, juga gerombolan yang sama yang tertawa sinis kepada kebakuan.
Nyatanya kemudian, aku juga sedang membual di awal kalimat-kalimat terakhir tadi.
Cengkareng, 19 Mei 2012.
1930 WIB.
Friday, March 23, 2012
Alur Waktu (Episode Pertama)
23 Maret 2012; Pagi; Sepanjang jalan antara Cengkareng dan Bandung.
--------------------------------------------------------
Namanya Aria. Kesan yang pasti muncul pertama bertemu dia adalah keraguan untuk mencairkan kecanggungan yang mengetalase di setiap pergerakan tubuhnya.
Dia seperti kucing.
Aku mengenalnya dari Farrah, seseorang yang kini menjadi pasanganku. Dengan Aria, pada awal-awal pertemuan, tak sering aku berbincang. Hanya sesekali.
Adalah suatu malam di pangkal kaki jl. Setiabudhi Bandung ketika kali pertama kami berbagi minuman bersama di sebuah kedai, barulah aku tahu kalau dia tak sependiam itu. Banyak pula malam lainnya yang aku habiskan dengan lepasan tawa dengannya setelahnya.
Aku rasa dia kucing.
Saat aku harus berkompromi dengan pemenuhan kebahagian dan kebanggaan orang yang aku cintai dan mulai mencari kerja di Jakarta, kamar rentalan miliknyalah yang kerap aku singgahi. Sosok yang ramah dan mempersilakan, itulah tanggapanku tentangnya.
Di hari-hari terakhir dalam sebuah fase hidup saat aku mampu menyesap alkohol demi kesenangan dan bukannya demi kebutuhan pelarian diri, aku mengirim pesan singkat menanyakan bila dia sedang ada di kota yang sama malam itu. Dia jawab ya dan mengiyakan ajakanku untuk menghabiskan malam bersama.
Di sanalah dia, di sampingku, membantu menghapus embun yang menempel di kaca mobil yang kami naiki, yang sesekali harus sengaja dilajukan di tepi jalan karena deras hujan cukup membuat pandangan berkemudi kewalahan. Aku putuskan untuk tidak menyambangi kedai minum dan berinisiatif untuk membeli beberapa botol bir dan menghabiskannya di tempat terbuka; aku berpikir tentang taman atau kursi duduk pinggir jalan. Tak ada maksud apa-apa, hanya semacam ide acak yang kalaupun dia sanggah dan menggantinya dengan idenya, aku akan mengikutinya juga tanpa pikir panjang. Dia hanya menjawab, "ayo, boleh." Dan dialah Aria, seseorang yang bisa menyetujui dan menganggap semuanya seperti ide brilian.
Mungkin dia kucing.
Ada pembatasan peredaran minuman beralkohol di kota Bandung kala itu. Masa di mana sangat susah mendapatkannya di toserba 24 jam manapun. Berputar-putarlah kami menyinggahi setiap warung non-stop yang bebrapa bulan sebelumnya masih menjual minuman bermalta-ragi dengan bebas. Sampai pada akhirnya kami bisa mendapatkannya di sebuah toserba di bilangan Setiabudhi. Kami menepi. Hujan belum berhenti. Kami duduk di teras toserba.
Belum genap semenit, kami sudah mendapati diri kami terlibat dalam obrolan-obrolan ringan dan senyumpun sudah bersunggingan silih berganti dan kerap berbarengan di masing-masing pipi kami. Dia bukan seorang pemalu dan pecanggung, aku yakini untuk kesekian kalinya kepada diriku sendiri, dia selalu menjadi sosok ramah dan mempersilakan.
Dia memang kucing!
Sampailah masing-masing dari kami pada tegukan terakhir botol besar (Bintang punyanya dan Anker punyaku) yang pemulung-botol-yang-dengan-setia-menunggui-hingga-tiap-botol-tandas tahu itu botol ke-berapa.
Berbekal rona di pipi, dia mulai bercerita tentang permepuan-perempuan yang dia sukai, tentang perempuan yang dia sukai ternyata tak menyukai dia balik, tentang perempuan yang dia sukai dan menyukainya balik namun si perempuan telah terlanjur terikat hubungan dengan teman yang sudah cukup dekat dengannya.
Dia juga bercerita, semacam melakukan pengakuan, tentang sesuatu yang menurutnya kala itu akan mengagetkanku. Intinya, semua memuara ke kondisi betapa beruntungnya aku yang bisa mendapati Farrah selalu ada di sisiku. Tak sedikitpun aku terkejut. Lelaki selalu lebih tahu apa-apa yang menguntit di belakang perempuan mereka. Bukan karena terkaan, tapi logika yang akan juga dipakainya untuk menguntit seorang perempuan.
Aku tak bisa menceritakan detilnya; terlanjur sepakat untuk membuatnya sebagai rahasia.
"Satu hal adalah bahwa aku tak akan bisa meminta lebih dari apa yang perempuan itu berikan," ujarku.
Obrolan terus berlanjut.
Debat kecil tentang tempat yang paling harus dikunjungi sebelum kami mati.
Kelakar ringan yang membuat kami tergelak ketika kami yakini bahwa kami tidak sedang menyerah, tetapi sedang pura-pura tidur dan sementara itu menjadi duri dalam daging; Entahlah, klise memang, tapi kami percaya bahwa kami belum cukup tua untuk kelak menjadikan dasi yang kami pakai sebagai tak lebih dari perban penutup bukaan luka di punggung buku jari kami sehabis memukulpecah cermin yang kami gunakan. Aku tahu itu bukan kelakar, itu adalah janji.
Pagi menjelang, pengalor-kidulan berhilir di sebuah ikhtisar singkat yang kurang lebih mem-vokalkan mengenai betapa hidup adalah kalkulasi dan akumulasi dari kompromi dan pewajaran, yang kerap membuat kami geram, kecewa dan pada akhirnya mengamininya juga.
Kami akan bertemu lagi ketika kami sama-sama menjadi kucing liar.
"Untuk hidup dan apa yang akan terjadi selanjutnya."
Kata-kata itulah yang tadinya mau ku katakan padanya di sulangan botol bir terakhir kami, sebelum dia mulai membuka bibir dan dengan tersipu akhirnya angkat bicara,
"Untuk semuanya."
--------------------------------------------------------
Namanya Aria. Kesan yang pasti muncul pertama bertemu dia adalah keraguan untuk mencairkan kecanggungan yang mengetalase di setiap pergerakan tubuhnya.
Dia seperti kucing.
Aku mengenalnya dari Farrah, seseorang yang kini menjadi pasanganku. Dengan Aria, pada awal-awal pertemuan, tak sering aku berbincang. Hanya sesekali.
Adalah suatu malam di pangkal kaki jl. Setiabudhi Bandung ketika kali pertama kami berbagi minuman bersama di sebuah kedai, barulah aku tahu kalau dia tak sependiam itu. Banyak pula malam lainnya yang aku habiskan dengan lepasan tawa dengannya setelahnya.
Aku rasa dia kucing.
Saat aku harus berkompromi dengan pemenuhan kebahagian dan kebanggaan orang yang aku cintai dan mulai mencari kerja di Jakarta, kamar rentalan miliknyalah yang kerap aku singgahi. Sosok yang ramah dan mempersilakan, itulah tanggapanku tentangnya.
Di hari-hari terakhir dalam sebuah fase hidup saat aku mampu menyesap alkohol demi kesenangan dan bukannya demi kebutuhan pelarian diri, aku mengirim pesan singkat menanyakan bila dia sedang ada di kota yang sama malam itu. Dia jawab ya dan mengiyakan ajakanku untuk menghabiskan malam bersama.
Di sanalah dia, di sampingku, membantu menghapus embun yang menempel di kaca mobil yang kami naiki, yang sesekali harus sengaja dilajukan di tepi jalan karena deras hujan cukup membuat pandangan berkemudi kewalahan. Aku putuskan untuk tidak menyambangi kedai minum dan berinisiatif untuk membeli beberapa botol bir dan menghabiskannya di tempat terbuka; aku berpikir tentang taman atau kursi duduk pinggir jalan. Tak ada maksud apa-apa, hanya semacam ide acak yang kalaupun dia sanggah dan menggantinya dengan idenya, aku akan mengikutinya juga tanpa pikir panjang. Dia hanya menjawab, "ayo, boleh." Dan dialah Aria, seseorang yang bisa menyetujui dan menganggap semuanya seperti ide brilian.
Mungkin dia kucing.
Ada pembatasan peredaran minuman beralkohol di kota Bandung kala itu. Masa di mana sangat susah mendapatkannya di toserba 24 jam manapun. Berputar-putarlah kami menyinggahi setiap warung non-stop yang bebrapa bulan sebelumnya masih menjual minuman bermalta-ragi dengan bebas. Sampai pada akhirnya kami bisa mendapatkannya di sebuah toserba di bilangan Setiabudhi. Kami menepi. Hujan belum berhenti. Kami duduk di teras toserba.
Belum genap semenit, kami sudah mendapati diri kami terlibat dalam obrolan-obrolan ringan dan senyumpun sudah bersunggingan silih berganti dan kerap berbarengan di masing-masing pipi kami. Dia bukan seorang pemalu dan pecanggung, aku yakini untuk kesekian kalinya kepada diriku sendiri, dia selalu menjadi sosok ramah dan mempersilakan.
Dia memang kucing!
Sampailah masing-masing dari kami pada tegukan terakhir botol besar (Bintang punyanya dan Anker punyaku) yang pemulung-botol-yang-dengan-setia-menunggui-hingga-tiap-botol-tandas tahu itu botol ke-berapa.
Berbekal rona di pipi, dia mulai bercerita tentang permepuan-perempuan yang dia sukai, tentang perempuan yang dia sukai ternyata tak menyukai dia balik, tentang perempuan yang dia sukai dan menyukainya balik namun si perempuan telah terlanjur terikat hubungan dengan teman yang sudah cukup dekat dengannya.
Dia juga bercerita, semacam melakukan pengakuan, tentang sesuatu yang menurutnya kala itu akan mengagetkanku. Intinya, semua memuara ke kondisi betapa beruntungnya aku yang bisa mendapati Farrah selalu ada di sisiku. Tak sedikitpun aku terkejut. Lelaki selalu lebih tahu apa-apa yang menguntit di belakang perempuan mereka. Bukan karena terkaan, tapi logika yang akan juga dipakainya untuk menguntit seorang perempuan.
Aku tak bisa menceritakan detilnya; terlanjur sepakat untuk membuatnya sebagai rahasia.
"Satu hal adalah bahwa aku tak akan bisa meminta lebih dari apa yang perempuan itu berikan," ujarku.
Obrolan terus berlanjut.
Debat kecil tentang tempat yang paling harus dikunjungi sebelum kami mati.
Kelakar ringan yang membuat kami tergelak ketika kami yakini bahwa kami tidak sedang menyerah, tetapi sedang pura-pura tidur dan sementara itu menjadi duri dalam daging; Entahlah, klise memang, tapi kami percaya bahwa kami belum cukup tua untuk kelak menjadikan dasi yang kami pakai sebagai tak lebih dari perban penutup bukaan luka di punggung buku jari kami sehabis memukulpecah cermin yang kami gunakan. Aku tahu itu bukan kelakar, itu adalah janji.
Pagi menjelang, pengalor-kidulan berhilir di sebuah ikhtisar singkat yang kurang lebih mem-vokalkan mengenai betapa hidup adalah kalkulasi dan akumulasi dari kompromi dan pewajaran, yang kerap membuat kami geram, kecewa dan pada akhirnya mengamininya juga.
Kami akan bertemu lagi ketika kami sama-sama menjadi kucing liar.
"Untuk hidup dan apa yang akan terjadi selanjutnya."
Kata-kata itulah yang tadinya mau ku katakan padanya di sulangan botol bir terakhir kami, sebelum dia mulai membuka bibir dan dengan tersipu akhirnya angkat bicara,
"Untuk semuanya."
Tuesday, January 31, 2012
Rencana.
31 Januari 2012
12:35
-------------------------------------------------------------------------------------
"Hidup adalah apa yang terjadi padamu saat kau sibuk merencanakan hal-hal lain," pungkas John Lennon.
12:35
-------------------------------------------------------------------------------------
"Hidup adalah apa yang terjadi padamu saat kau sibuk merencanakan hal-hal lain," pungkas John Lennon.
Jurnal Pasca Sebotol Malta Beragi.
31 Januari 2012
Sembari mendengarkan dengungan sebuah gita bertajuk Deep Love yang dipopulerkan oleh Mandalay..
------------------------------------------------------------------------------------
Arthur: Porquoi?
Verlaine: Puisque c'est que les auteurs font.
Arthur: Je ne pouvais pas me soucier moins d'être publié. La seule chose qui les questions {affaires} sont l'écriture lui-même.. Tout le reste est la littérature.
Arthur: Mengapa?
Verlaine: Karena itulah yang dilakukan penulis.
Arthur: Saya tak bisa lebih peduli tentang melakukannya. Satu-satunya hal yang berarti (dari menulis) adalah menulis itu sendiri.. Sisanya adalah literatur.
(Arthur Rimbaud, saat diberi saran oleh Paul Verlaine untuk menerbitkan tulisannya)
Hasrat adalah esensi, adalah nyawa, bagi individu untuk melakukan aksi. Apapun itu.
Hasrat adalah apa yang nantinya menghasilkan pemuasan. Batiniah, lahiriah, apapun-iah.
Dalam pemenuhannya, kerap individu mesti entah-berapa-kali berkompromi dengan premis-premis, dengan variabel-variabel, dengan alasan-alasan, dengan pemenuhan hasrat individu lainnya.
Kerap individu mesti berkomunikasi dengan dirinya, tentang nilai, tentang keidealan, tentang nilai, tentang kesepatutnyaan, tentang nilai, tentang kesepantasnyaan, tentang nilai, tentang keseharusnyaan, tentang nilai, tentang nilai, tentang keseharusnyaan, tentang bertabrakannya hasrat dan nilai, tentang bergumulnya pikiran individu tersebut. Tentang apa saja.
"I understood that what i needed to become the first poet of this century was to experience everything in my body. It was no longer enough for me to be one person. I decided to be everybody."
Sembari mendengarkan dengungan sebuah gita bertajuk Deep Love yang dipopulerkan oleh Mandalay..
------------------------------------------------------------------------------------
Arthur: Porquoi?
Verlaine: Puisque c'est que les auteurs font.
Arthur: Je ne pouvais pas me soucier moins d'être publié. La seule chose qui les questions {affaires} sont l'écriture lui-même.. Tout le reste est la littérature.
Arthur: Mengapa?
Verlaine: Karena itulah yang dilakukan penulis.
Arthur: Saya tak bisa lebih peduli tentang melakukannya. Satu-satunya hal yang berarti (dari menulis) adalah menulis itu sendiri.. Sisanya adalah literatur.
(Arthur Rimbaud, saat diberi saran oleh Paul Verlaine untuk menerbitkan tulisannya)
Hasrat adalah esensi, adalah nyawa, bagi individu untuk melakukan aksi. Apapun itu.
Hasrat adalah apa yang nantinya menghasilkan pemuasan. Batiniah, lahiriah, apapun-iah.
Dalam pemenuhannya, kerap individu mesti entah-berapa-kali berkompromi dengan premis-premis, dengan variabel-variabel, dengan alasan-alasan, dengan pemenuhan hasrat individu lainnya.
Kerap individu mesti berkomunikasi dengan dirinya, tentang nilai, tentang keidealan, tentang nilai, tentang kesepatutnyaan, tentang nilai, tentang kesepantasnyaan, tentang nilai, tentang keseharusnyaan, tentang nilai, tentang nilai, tentang keseharusnyaan, tentang bertabrakannya hasrat dan nilai, tentang bergumulnya pikiran individu tersebut. Tentang apa saja.
"I understood that what i needed to become the first poet of this century was to experience everything in my body. It was no longer enough for me to be one person. I decided to be everybody."
Tuesday, August 16, 2011
A Full-(life)time Stranger.
August 16 2011.
--------------------------------------------------------------------------------
You're somewhat of a stranger.
That's what keeps me want to get closer/
The incompleteness of knowing and finding ways to show.
The incompleteness of showing and getting to know/
When it comes to questions, i can always relate to your answers.
When it comes to hesitations, your soft palms on mine is the only thing that matters/
The hell with their smear, it's the last of things i want to listen to.
Oh, dear, i sure have got my whole lifetime to get acquainted with you/
--------------------------------------------------------------------------------
You're somewhat of a stranger.
That's what keeps me want to get closer/
The incompleteness of knowing and finding ways to show.
The incompleteness of showing and getting to know/
When it comes to questions, i can always relate to your answers.
When it comes to hesitations, your soft palms on mine is the only thing that matters/
The hell with their smear, it's the last of things i want to listen to.
Oh, dear, i sure have got my whole lifetime to get acquainted with you/
Thursday, December 16, 2010
A Stolen Cheap Poem.
The 16th of December.
What is played at the moment? 'Autumn Leaves' by Nat King Cole is.
----------------------------------------
I always like the way you rub your nose,
And the way you frown when you listen to sigur ròs.
The way you play your fingers with lips inaudibly mouthing something like doing math as cars pass us through, then i ask, "what are you doing?"
"nothing. Just calculate numbers," you then will answer.
The way you walk,
The way you talk.
The way you giggle when i ask you for a dance,
The way you rather use glasses instead of lens.
The way you dress,
The way you let your hair in a mess.
The way you bend your body forward when you feel tired,
The way you relievly grinned when you got fired.
I always love the way you pronounce 'Ian Curtis',
And the way you ask, "can you repeat that again, please?"
What is played at the moment? 'Autumn Leaves' by Nat King Cole is.
----------------------------------------
I always like the way you rub your nose,
And the way you frown when you listen to sigur ròs.
The way you play your fingers with lips inaudibly mouthing something like doing math as cars pass us through, then i ask, "what are you doing?"
"nothing. Just calculate numbers," you then will answer.
The way you walk,
The way you talk.
The way you giggle when i ask you for a dance,
The way you rather use glasses instead of lens.
The way you dress,
The way you let your hair in a mess.
The way you bend your body forward when you feel tired,
The way you relievly grinned when you got fired.
I always love the way you pronounce 'Ian Curtis',
And the way you ask, "can you repeat that again, please?"
Tuesday, April 27, 2010
Shai Hulud are Asking Indonesia to Dance, Baby!!
Seringai's "Generasi Menolak Tua" DVD launching event.
Saturday, April 24, 2010
a guide for a broken heart. (in reference to Charlie Fink)
April 24th.
While wondering what Charlie Fink did feel when He was recording The First Days of Spring.
------------------------------------------------------------------------------------
when you're in love, nothing scares you in the whole universe but one thing: heartbreak.
our window
and we both know that it's over, but we both are not ready. and you're talking like a stranger, so i don't know what to do.
well i don't think that it's the end, but i know we can't keep going.
slow glass
well i never tried to change you, honey i'm your biggest fan. and i loved you back then, but i don't recognize you now.
i have nothing
i'm the flower you're keeping, that without love will wilt and die.
i'd do anything to be at your side, i'd be anyone to be at you side.
so come back to me, i need your light in my life.
my door is always open
i love with my heart and i hold it in my hands, but you know, my heart is not yours. well you have only left me down but, yeah, my door is always open.
blue skies
this is a song for anyone with a broken heart. this is a song for anyone who can't get out of bed.
this is the last song that i write while still in love with you.
i don't think that it's the end but i know we can't keep going.
While wondering what Charlie Fink did feel when He was recording The First Days of Spring.
------------------------------------------------------------------------------------
when you're in love, nothing scares you in the whole universe but one thing: heartbreak.
our window
and we both know that it's over, but we both are not ready. and you're talking like a stranger, so i don't know what to do.
well i don't think that it's the end, but i know we can't keep going.
slow glass
well i never tried to change you, honey i'm your biggest fan. and i loved you back then, but i don't recognize you now.
i have nothing
i'm the flower you're keeping, that without love will wilt and die.
i'd do anything to be at your side, i'd be anyone to be at you side.
so come back to me, i need your light in my life.
my door is always open
i love with my heart and i hold it in my hands, but you know, my heart is not yours. well you have only left me down but, yeah, my door is always open.
blue skies
this is a song for anyone with a broken heart. this is a song for anyone who can't get out of bed.
this is the last song that i write while still in love with you.
i don't think that it's the end but i know we can't keep going.
Wednesday, April 21, 2010
cocaine, heroine and what they mean to do.
Tuesday, April 20, 2010
the ambivalence.
april 20th.
while listening to Blur's Charmless Man.
i don't know, it's like the feeling when you notice that you've become a terribly lazy kinda. or maybe more to an indolently slacker kind of ones, but really, you don't know what you should do about it.
i seemed to enjoy the awesomeness of being slothful (in doing compulsory tasks like academical or tidyness stuff), of getting bombed, of doing gigs-hopping, of wasting my times in front of the laptop downloading and surfing, of doing nothing a day long.
yet, i also noticed that i can't go on like this, i mean, yeah i still have to do youth stuff and have fun, but not without ignoring the obligations i held regarding my responsibilities to the ones who support my living stuff. know what i mean?

after all, it's like an ambivalence or something.
while listening to Blur's Charmless Man.
i don't know, it's like the feeling when you notice that you've become a terribly lazy kinda. or maybe more to an indolently slacker kind of ones, but really, you don't know what you should do about it.
i seemed to enjoy the awesomeness of being slothful (in doing compulsory tasks like academical or tidyness stuff), of getting bombed, of doing gigs-hopping, of wasting my times in front of the laptop downloading and surfing, of doing nothing a day long.
yet, i also noticed that i can't go on like this, i mean, yeah i still have to do youth stuff and have fun, but not without ignoring the obligations i held regarding my responsibilities to the ones who support my living stuff. know what i mean?

after all, it's like an ambivalence or something.
Saturday, April 17, 2010
atmosfiris.
sebuah re-publikasi tulisan yang pernah dimuat di Ripple Magazine edisi.. ah, saya lupa edisi berapa.
-----------------------------------------------------------------------------------
“And you’ve been so busy lately that you haven’t found the time to open up your mind and watch the world spinning gently out of time..” – Blur
Pernah dahulu, ketika topi merah bertuliskan “Tut Wuri Handayani” masih menjadi primadona dan outfit pilihan utama di jajaran topi-topi lainnya, saya terduduk sendiri lengkap dengan kaos kaki panjang dan sepatu bola, kaos olahraga sekolah berwarna biru telur asin, celana tim bola Manchester United serta tas gendong berisi kempis air minum dan bekal makanan di sebuah Tupperware. Pagi itu, minggu pagi yang agak mendung itu, kira-kira pukul 09.00 saya sudah berada di lapangan berrumputkan beton yang berlokasi di dalam wilayah sebuah Sekolah Dasar di bilangan jalan Rajawali Bandung, menendang-nendang bola sendiri. Alasan kedatangan saya ke sekolah pada hari Minggu itu adalah untuk bermain bola bersama teman. Sekitar sepuluh orang sudah dikoordinasikan pada hari Sabtu siang selepas kegiatan Pramuka untuk bertemu di sekolah pada sekitar pukul 09.00 pagi keesokan harinya. Satu demi satu teman-teman saya berdatangan, sampai saat jarum-jarum jam dinding besar di depan ruang guru menunjukkan pukul 10.00, tinggal tersisa satu orang kawan bernama Lanang yang belum terlihat batang hidungnya. Sambil menunggu, kami putuskan untuk membagi jumlah anak-anak yang sudah hadir ke dalam dua tim. Lagi-lagi jempol-telunjuk-kelingking berbicara, memutuskan tim mana yang akan mendapatkan pemain penuh 5 orang dan mana yang akan bermain dengan 4 orang saja sampai Lanang datang. Sepak-sepakan bola pun berlangsung dan di tengah-tengah permainan terdengar teriakan dari suara yang tak asing lagi, “Urang abus Beulah mana?!!” (“Saya tim mana?” -Red.) teriak Lanang dari pintu masuk sekolah menanyakan tim manakah kiranya yang harus Ia gabungi. Saya tersenyum melihat Lanang, celana sepakbolanya berwarna belang kegelapan di beberapa bagian sebagai tanda bahwa celana itu sempat terguyur air hujan dan kaos olahraganya bercapkan sebuah garis lurus di punggung sebagai akibat dari percikan genangan lumpur dan air hujan yang ditinggalkan ban belakang sepedanya. Rupanya guyuran hujan dari arah Bale Endah Bandung (sekitar 20 kilometer jaraknya dari sekolah) menghalanginya untuk datang tepat waktu di SD YWKA jalan Rajawali Bandung. Tepat pukul 11.00 Lanang datang dan kira-kira 15 menit kemudian hujan turun membahasi sekolah kami dan kali ini, hujan ini, tak dapat menghalangi Lanang dari semangatnya mengocek bola dan menyarangkannya di gawang lawan.
Pernah dahulu, ketika seragam putih-biru masih dengan setianya melekat di badan kerempeng saya di sebuah Rabu siang di bilangan jalan Pajajaran Bandung, saat itu saya sedang dekat dengan seorang gadis, ya katakanlah namanya Gita karena memang namanya itu, yang juga bersekolah di tempat yang sama. Karena keterbatasan sarana komunikasi elektronik kala itu, maka sepucuk surat pun kami jadikan media untuk berkomunikasi. Setidaknya setiap dua hari sekali selama dua caturwulan kami selalu janjian di sebuah tempat untuk bertukar surat. Adalah warung yang menjual jajanan gorengan di pojok timur sekolah itu, yang setiap Senin, Rabu dan Jumat siangnya kami jadikan tempat bertemu. Tak ada Senin siang yang terlewatkan, tak ada Rabu siang yang tak tersiangi dengan senyuman dan tak ada Jumat siang yang tak jadi siang. Siang, karena siang adalah waktu pergantian shift kelas belajar pagi dan kelas belajar siang. Kami berdua tak pernah dijodohkan untuk dapat bertemu di shift yang sama, selalu saja berbeda, kalau dia kebagian kelas pagi maka saya siangnya, begitu pula sebaliknya. Kala itu, ketika degup jantung semakin berdetak kencang oleh sebuah kisah asmara awal masa pubertas, keterbatasan sarana telekomunikasi adalah satu-satunya hal yang membatasi gebu perasaan dua insan remaja yang tengah kasmaran. Seringkali saya dapati diri saya mengumpat secara serapah mereka, teman-teman SMP saya lainnya, yang orangtuanya memunyai cukup materi untuk membelikan mereka ponsel.
At present, beberapa minggu ke belakang, saya seakan dihantui oleh momen-momen itu, masa-masa di mana sedikit sekali janji yang terlanggar, masa-masa di mana keminimalitasan intensitas pertemuan atau komunikasi bagi dua orang yang sedang memadu kasih menjadi pemicu kerinduan yang lebih kuat dari model pacaran yang sarat akan keberadaan media komunikasi mutakhir dewasa ini, masa-masa di mana Lanang tak menghiraukan hujan yang mengguyur di kilometer ke-20 perjalanannya ke sebuah janji yang telah kami sepakati bersama, masa-masa di mana tak ada media yang dapat dijadikan tameng untuk melanggar sebuah janji dengan sekadar pesan tekstual: “Sorry, hujan gede! Ketemuannya tar sorean aja. ;-p .lol.”, masa-masa di mana saya masih anak berumur 10 tahun yang sedang menendang-nendang bola di lapangan sebuah Sekolah Dasar dan dengan sabar menunggu selalu yakin bahwa teman-temannya PASTI akan datang, masa-masa di mana saya tengah berbaring terlentang memandangi langit-langit kamar sambil mendengarkan lagu I’ll Be There-nya The Rembrandts yang diputar lewat radio dan membayangkan sedang apa kiranya si do’i pujaan hati di bagian kota Bandung sebelah sana, masa-masa di mana berduaan dengan pacar adalah: saya, kamu dan cukup satu strawberry popsicle tanpa BlackBerry, masa-masa di mana kamu lebih memilih menautkan jari-jarimu ke jari-jari saya daripada menautkannya ke sebuah gadget, masa-masa di mana kamu tidak menggunakan earphone iPod-mu saat saya tanya tentang bagaimana harimu berjalan, masa-masa di mana semua tema obrolan adalah penting untung disimak dan tak ada media elektronik untuk mengalihkan perhatianmu, masa-masa di mana segalanya tak terlalu terfasilitasi, masa-masa di mana kamu lebih memilih menggunakan jempol kamu untuk mengusap-hapuskan sisa saus tomat yang tersisa di mulut saya daripada menggunakannya untuk meng-scroll ke atas dan ke bawah ponsel 24-jam-online-terus-mu.
Ah, saya melamun, ya saya melamun, tentang masa-masa di mana saya belum berpikiran bahwa teknologi itu menyebalkan.
-----------------------------------------------------------------------------------
“And you’ve been so busy lately that you haven’t found the time to open up your mind and watch the world spinning gently out of time..” – Blur
Pernah dahulu, ketika topi merah bertuliskan “Tut Wuri Handayani” masih menjadi primadona dan outfit pilihan utama di jajaran topi-topi lainnya, saya terduduk sendiri lengkap dengan kaos kaki panjang dan sepatu bola, kaos olahraga sekolah berwarna biru telur asin, celana tim bola Manchester United serta tas gendong berisi kempis air minum dan bekal makanan di sebuah Tupperware. Pagi itu, minggu pagi yang agak mendung itu, kira-kira pukul 09.00 saya sudah berada di lapangan berrumputkan beton yang berlokasi di dalam wilayah sebuah Sekolah Dasar di bilangan jalan Rajawali Bandung, menendang-nendang bola sendiri. Alasan kedatangan saya ke sekolah pada hari Minggu itu adalah untuk bermain bola bersama teman. Sekitar sepuluh orang sudah dikoordinasikan pada hari Sabtu siang selepas kegiatan Pramuka untuk bertemu di sekolah pada sekitar pukul 09.00 pagi keesokan harinya. Satu demi satu teman-teman saya berdatangan, sampai saat jarum-jarum jam dinding besar di depan ruang guru menunjukkan pukul 10.00, tinggal tersisa satu orang kawan bernama Lanang yang belum terlihat batang hidungnya. Sambil menunggu, kami putuskan untuk membagi jumlah anak-anak yang sudah hadir ke dalam dua tim. Lagi-lagi jempol-telunjuk-kelingking berbicara, memutuskan tim mana yang akan mendapatkan pemain penuh 5 orang dan mana yang akan bermain dengan 4 orang saja sampai Lanang datang. Sepak-sepakan bola pun berlangsung dan di tengah-tengah permainan terdengar teriakan dari suara yang tak asing lagi, “Urang abus Beulah mana?!!” (“Saya tim mana?” -Red.) teriak Lanang dari pintu masuk sekolah menanyakan tim manakah kiranya yang harus Ia gabungi. Saya tersenyum melihat Lanang, celana sepakbolanya berwarna belang kegelapan di beberapa bagian sebagai tanda bahwa celana itu sempat terguyur air hujan dan kaos olahraganya bercapkan sebuah garis lurus di punggung sebagai akibat dari percikan genangan lumpur dan air hujan yang ditinggalkan ban belakang sepedanya. Rupanya guyuran hujan dari arah Bale Endah Bandung (sekitar 20 kilometer jaraknya dari sekolah) menghalanginya untuk datang tepat waktu di SD YWKA jalan Rajawali Bandung. Tepat pukul 11.00 Lanang datang dan kira-kira 15 menit kemudian hujan turun membahasi sekolah kami dan kali ini, hujan ini, tak dapat menghalangi Lanang dari semangatnya mengocek bola dan menyarangkannya di gawang lawan.
Pernah dahulu, ketika seragam putih-biru masih dengan setianya melekat di badan kerempeng saya di sebuah Rabu siang di bilangan jalan Pajajaran Bandung, saat itu saya sedang dekat dengan seorang gadis, ya katakanlah namanya Gita karena memang namanya itu, yang juga bersekolah di tempat yang sama. Karena keterbatasan sarana komunikasi elektronik kala itu, maka sepucuk surat pun kami jadikan media untuk berkomunikasi. Setidaknya setiap dua hari sekali selama dua caturwulan kami selalu janjian di sebuah tempat untuk bertukar surat. Adalah warung yang menjual jajanan gorengan di pojok timur sekolah itu, yang setiap Senin, Rabu dan Jumat siangnya kami jadikan tempat bertemu. Tak ada Senin siang yang terlewatkan, tak ada Rabu siang yang tak tersiangi dengan senyuman dan tak ada Jumat siang yang tak jadi siang. Siang, karena siang adalah waktu pergantian shift kelas belajar pagi dan kelas belajar siang. Kami berdua tak pernah dijodohkan untuk dapat bertemu di shift yang sama, selalu saja berbeda, kalau dia kebagian kelas pagi maka saya siangnya, begitu pula sebaliknya. Kala itu, ketika degup jantung semakin berdetak kencang oleh sebuah kisah asmara awal masa pubertas, keterbatasan sarana telekomunikasi adalah satu-satunya hal yang membatasi gebu perasaan dua insan remaja yang tengah kasmaran. Seringkali saya dapati diri saya mengumpat secara serapah mereka, teman-teman SMP saya lainnya, yang orangtuanya memunyai cukup materi untuk membelikan mereka ponsel.
At present, beberapa minggu ke belakang, saya seakan dihantui oleh momen-momen itu, masa-masa di mana sedikit sekali janji yang terlanggar, masa-masa di mana keminimalitasan intensitas pertemuan atau komunikasi bagi dua orang yang sedang memadu kasih menjadi pemicu kerinduan yang lebih kuat dari model pacaran yang sarat akan keberadaan media komunikasi mutakhir dewasa ini, masa-masa di mana Lanang tak menghiraukan hujan yang mengguyur di kilometer ke-20 perjalanannya ke sebuah janji yang telah kami sepakati bersama, masa-masa di mana tak ada media yang dapat dijadikan tameng untuk melanggar sebuah janji dengan sekadar pesan tekstual: “Sorry, hujan gede! Ketemuannya tar sorean aja. ;-p .lol.”, masa-masa di mana saya masih anak berumur 10 tahun yang sedang menendang-nendang bola di lapangan sebuah Sekolah Dasar dan dengan sabar menunggu selalu yakin bahwa teman-temannya PASTI akan datang, masa-masa di mana saya tengah berbaring terlentang memandangi langit-langit kamar sambil mendengarkan lagu I’ll Be There-nya The Rembrandts yang diputar lewat radio dan membayangkan sedang apa kiranya si do’i pujaan hati di bagian kota Bandung sebelah sana, masa-masa di mana berduaan dengan pacar adalah: saya, kamu dan cukup satu strawberry popsicle tanpa BlackBerry, masa-masa di mana kamu lebih memilih menautkan jari-jarimu ke jari-jari saya daripada menautkannya ke sebuah gadget, masa-masa di mana kamu tidak menggunakan earphone iPod-mu saat saya tanya tentang bagaimana harimu berjalan, masa-masa di mana semua tema obrolan adalah penting untung disimak dan tak ada media elektronik untuk mengalihkan perhatianmu, masa-masa di mana segalanya tak terlalu terfasilitasi, masa-masa di mana kamu lebih memilih menggunakan jempol kamu untuk mengusap-hapuskan sisa saus tomat yang tersisa di mulut saya daripada menggunakannya untuk meng-scroll ke atas dan ke bawah ponsel 24-jam-online-terus-mu.
Ah, saya melamun, ya saya melamun, tentang masa-masa di mana saya belum berpikiran bahwa teknologi itu menyebalkan.
Thursday, December 31, 2009
macclesfield.
december 31st.
farewell-ing these amber days.
have a sober new year's eve, frands.
http://www.mediafire.com/?sharekey=9cbe0584676cea8c36df4e8dca141969fb6356a8cff343e2f7e866bfb1230ce0
;)
farewell-ing these amber days.
have a sober new year's eve, frands.
http://www.mediafire.com/?sharekey=9cbe0584676cea8c36df4e8dca141969fb6356a8cff343e2f7e866bfb1230ce0
;)
Thursday, December 17, 2009
fuck.
december 17th.
woke up screwed.
a four-letter word got stuck in my head, the dirtiest word that i've ever said.
it's making me feel alright.
woke up screwed.
a four-letter word got stuck in my head, the dirtiest word that i've ever said.
it's making me feel alright.
Sunday, December 6, 2009
ctrl+c | ctrl+v
december 6th.
i haven't been in a good mood to do any writing, been too much crippled and slow.
so all i can do now is quoting, copying and pasting. enjoy.
skinny love. by bon iver.
come on skinny love just last the year
pour a little salt we were never here
my, my, my, my, my, my, my, my
staring at the sink of blood and crushed veneer
i tell my love to wreck it all
cut out all the ropes and let me fall
my, my, my, my, my, my, my, my
right in the moment this order's tall
i told you to be patient
i told you to be fine
i told you to be balanced
i told you to be kind
in the morning I'll be with you
but it will be a different "kind"
i'll be holding all the tickets
and you'll be owning all the fines
come on skinny love what happened here
suckle on the hope in lite brassiere
my, my, my, my, my, my, my, my
sullen load is full; so slow on the split
i told you to be patient
i told you to be fine
i told you to be balanced
i told you to be kind
now all your love is wasted?
then who the hell was I?
now I'm breaking at the britches
and at the end of all your lines
who will love you?
who will fight?
who will fall far behind?
i haven't been in a good mood to do any writing, been too much crippled and slow.
so all i can do now is quoting, copying and pasting. enjoy.
skinny love. by bon iver.
come on skinny love just last the year
pour a little salt we were never here
my, my, my, my, my, my, my, my
staring at the sink of blood and crushed veneer
i tell my love to wreck it all
cut out all the ropes and let me fall
my, my, my, my, my, my, my, my
right in the moment this order's tall
i told you to be patient
i told you to be fine
i told you to be balanced
i told you to be kind
in the morning I'll be with you
but it will be a different "kind"
i'll be holding all the tickets
and you'll be owning all the fines
come on skinny love what happened here
suckle on the hope in lite brassiere
my, my, my, my, my, my, my, my
sullen load is full; so slow on the split
i told you to be patient
i told you to be fine
i told you to be balanced
i told you to be kind
now all your love is wasted?
then who the hell was I?
now I'm breaking at the britches
and at the end of all your lines
who will love you?
who will fight?
who will fall far behind?
Monday, November 30, 2009
a quotes-mixtape.
november 30th.
a mixquote of the day.
"oow-ow-fuckity-ow! is this charming man getting the best of you?" --juno grohl smiths.
a mixquote of the day.
"oow-ow-fuckity-ow! is this charming man getting the best of you?" --juno grohl smiths.
Sunday, November 29, 2009
es ist dunstig.
Sunday, November 15, 2009
a tale of a crusty punk and an indierock darling.
november 15th.
while wondering whether tonight i'm gonna have dinner or super.
we both knew when Ben was going solo
i knew it because you told me so.
we both knew that we didn't catch Mono
because that time we were going duo.
we both knew when the city park's gate was open
we both loved parks as we did love Ben.

we both knew how to, to lace well our shoes
i knew how to, 'cause you taught me well to.
we both knew that we never liked boneheads
'cause we knew fascists were better off dead.
we both knew that i knew you didn't get Amebix
i knew that you knew i didn't notice Phoenix.
while wondering whether tonight i'm gonna have dinner or super.
we both knew when Ben was going solo
i knew it because you told me so.
we both knew that we didn't catch Mono
because that time we were going duo.
we both knew when the city park's gate was open
we both loved parks as we did love Ben.

we both knew how to, to lace well our shoes
i knew how to, 'cause you taught me well to.
we both knew that we never liked boneheads
'cause we knew fascists were better off dead.
we both knew that i knew you didn't get Amebix
i knew that you knew i didn't notice Phoenix.
Tuesday, November 3, 2009
the nearest shelter.
claps of thunders must have made you very frighten
barks of rottweilers must have jumped you off your shoes
may i come closer, so that i could hug you tighter?
no more you will get shivered, as we reach the nearest shelter
none of these buses that cross will take us to where we belong
i think we should get walking and mind no rain that falls
may i lead the way, find you the safest path?
so that you will not get lost, as we head for the next shelter

the nearest shelter
barks of rottweilers must have jumped you off your shoes
may i come closer, so that i could hug you tighter?
no more you will get shivered, as we reach the nearest shelter
none of these buses that cross will take us to where we belong
i think we should get walking and mind no rain that falls
may i lead the way, find you the safest path?
so that you will not get lost, as we head for the next shelter
the nearest shelter
Monday, November 2, 2009
me playing guitar.
november 3rd.
while listening to beastie boys' the mix up.
if you blogdivers have pretty much time, please feel free to download this link:
http://www.mediafire.com/?sharekey=9cbe0584676cea8c36df4e8dca141969fb6356a8cff343e2f7e866bfb1230ce0
and let me know once you have listened to them.
;)
muchas gracias.
while listening to beastie boys' the mix up.
if you blogdivers have pretty much time, please feel free to download this link:
http://www.mediafire.com/?sharekey=9cbe0584676cea8c36df4e8dca141969fb6356a8cff343e2f7e866bfb1230ce0
and let me know once you have listened to them.
;)
muchas gracias.
Subscribe to:
Posts (Atom)





