Thursday, September 10, 2009

kontradiksi.

10 september.
sebuah catatan hari kemarin.


ya, aku merasa sangat tidak senang saat orang-orang yang selalu ada di saat aku tidak senang, sedang tidak senang.
tapi tidak bisa disembunyikan, hari itu, tanggal 9 september itu, aku merasa senang menghabiskan waktu bersama karen.
ya, aku masih suka menyukai dia.
meskipun aku tahu bahwa aku bisa dengan cepat gelisah saat hari baru datang.
aku benci ketahuanku akan ke-sangat-biasa-biasa-saja-annya momen-momen yang terhabiskan saat kami bersama; tuduhku, tak ada yang spesial baginya dari berdiam diri berdua denganku: aku hanya seorang teman penghabis waktu lainnya.


[1630, bilangan jalan saparua]
telepon genggamku bergetar.
terdengar suara seorang kawan di ujung sambungan nirkabel sana, sar namanya.
suaranya berat, seperti tengah menahan sesuatu di paru-parunya agar tidak menyeruak keluar begitu saja.
dia butuh aku, minta diantarkan mencari baju hangat untuk persiapan cuaca yang suka tiba-tiba dingin, katanya.
ah, aku tahu pasti, pastinya ada yang lebih butuh kehangatan seperti yang sweater dapat berikan, daripada tubuh kecil sar yang tengah menggigil: hatinya lebih kedinginan.
aku tahu aku bisa saja langsung mengarahkan diri ke tempat ia tengah berada.
aku tahu aku sangat bisa.
tapi aku tak pernah menjadi teman yang baik, jarang.
juga sore itu.
aku sedang berada di samping karen dan aku tidak mau momen itu hilang, jelasku padanya.
dia sangat mengerti, aku begitu egois.
buru-buru ia sudahi sambungan telepon itu.
sempat ia lontarkan godaan selamat karena aku bisa kencan lagi dengan karen.
dia tertawa.
aku tertawa kecil.
dia tutup telepon.
aku tahu aku egois, aku tahu ia tak pernah menganggap keinginanku sebagai keegoisanku.
selamat senang-senang, pesannya tulus.

. . .

[2008, babakan siliwangi]
intro lagu 'eenie meenie' terdengar dari dalam tasku sebagai tanda ada pesan singkat yang masuk ke telgamku.

(terimakasih,paul membuat sy menangis)

itu martha.
pastinya ia sedang teringat lelaki yang pernah ia ceritakan padaku beberapa tempo lalu.
lelaki yang sempat menawarkan peluk saat keduanya tahu bahwa keduanya tengah menjalin komitmen dengan pasangannya masing-masing, lelaki yang sempat membuat pipinya merona merah malu dan lelaki itu juga yang pernah membuat pipinya memerah naik pitam.
lelaki itulah yang ia beritahukan kepadaku, kerap datang dan pergi tanpa maklumat.
dan lelaki yang sama yang menghapus nama si perempuan, martha, dari daftar teman di sebuah situs pertemanan.
martha sedang menangis, ia kabarkan aku.
martha sedang terisak sambil mendengarkan sebuah lagu yang beberapa minggu lalu sempat aku suruh untuk ia dengarkan, bayangku.

(kembali kasih. perihal cinta jok-belakangmu lagi, dik?)
jawab pesan singkatku.

(ya.)
jawabnya pendek, gelisah, gusar, yakin.


"is it okay if i call you mine? just for a time and i'll be just fine.."
-paul mccrane

3 comments:

  1. mungkin kamu bisa saja tidak dapat menjadi teman yang baik untuk sar, tapi saya yakin,,,sar adalah teman yang sangat baik...
    suatu hari nanti, mungkin kamu bisa memberi nya mantel yang hangat, selimuti saja, buatlah api unggun juga sebagai tebusan hutangmu..


    "hmmm....ternyata saya berhutang popsicle pada anda...."

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. ;)
    ya, kamu hutang popsicle!
    atasnya, saya akan berikan tepukan di pundak kamu, hitung-hitung rasa terima kasih; melunturkan sedikit serpihan debu sisa kamu bermain-main api unggun kemarin.

    ReplyDelete